Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

PALEMBANG A City by a River


By Rivani Adira (Adapted from: CnS English Teen Magazine,2006

Palembang is a city on Sumatra Island that is divided into two by the Musi River, the Ulu side and the Ilir side. This geographical situation has made water transportation system a part of the people’s daily life. Along both banks of the Musi there used to be moored raft-dwellings,called rakit, some of which served the as shops. The houses along the banks stand facing the water and are built on stilts. Because of its orientation towards the river, the city has an elongated profile along both sides and does not stretch far inland.

This Venice of the East located on important trade artery between India and China since ancient times has determined the character of Palembang as a port city. Now the two sides of the city are connected by one big bridge, AMPERA, which is short for Amanat Penderitaan Rakyat.

Visiting Palembang means that you can pamper yourself with the delicious fishcake Pempek, as you can find this kind of food everywhere, from street vendors to fancy restaurants. You can also see what remains from the glorious Sri Vijaya kingdom in Sultan Mahmud Badaruddin II Museum located on the side of the Musi River. Near the museum, you can see a building called Benteng Kuto Besak, which used to be the residence of the Sri Vijaya kings in the 18th century.

From the museum area, continue your walking trip to Mesjid Agung, an architectural proof of the acculturation of Chinese, native Palembang and modern cultures in a harmonious way. Built in 1738, has continually been rebuilt and renovated. The last renovation in the year 2000 has given the touch of the 21st century style to this unique mosque.

One thing that you shouldn’t miss when visiting Palembang is seeing people weaving Songket, the tradisional Palembang’s sarong. Take a becak ride to Jl. Ki Gede Ing Suro. On the way, you can see several Palembang’s traditional houses, limas houses, with their unique roof shape. You can ask your becak driver to wait for you while you’re browsing around the weaving houses along the street. You can also buy a sarong that you fancy. When you bargain for the desired it one, bear in mind that one sarong needs one full month to finish.

Enjoy Palembang, enjoy the Venice of the East!

Profilku dalam Buletin BKN bulan Mei 2013



Rabu, 30 Juni 2010

Pengalaman Baru

Sekitar pukul 20.00 wib aku memandu acara Ramah Tamah Kontingen Kabupaten Banyuasin pada PORPROV IX Sumsel 2010 di depan para pejabat Banyuasin termasuk orang nomor satu di Banyuasin Sang Bapak Bupati, Ir.H.Amiruddin Inoed. Hadirin sebagian besar adalah para atlit, wasit, dan official dari Banyuasin. Hal yang mengejutkanku adalah selama memandu acara tersebut aku tidak nervous sama sekali, sehingga menurutku... Aku lumayan sukses, (he..he..he...) Sebab yang kutahu dari orang-orang di sekitarku...beliau termasuk tipe perfeksionis alias agak sulit mentolerir kesalahan yang dibuat. Dan yang lebih mengejutkanku adalah ketika aku berjabat tangan dengan beliau...ada kalimat yang samar-samar terdengar (mudah2an aku nggak salah denger)"Ngemsi nya bagus". Yah...mungkin sekedar basa basi, tapi itu cukup membuat aku shock. Alhamdulillah...bagiku ini amat berarti.
27 Juni 2010 di RM Selatan Indah Palembang merupakan tanggal yang menorehkan cerita baru bagiku.

Selasa, 22 Juni 2010

Sebatang Kurma

Pohon Kurma

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Pohon Kurma (Date Palm)
Kurma, Sinai, Mesir

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Phoenix
Spesies : P. dactylifera
Nama binomial Phoenix dactylifera L.

Kurma (Phoenix dactylifera) adalah sejenis tanaman palma yang banyak ditanam di Timur Tengah dan Afrika Utara karena buahnya dapat dimakan. Karena sejarah pembudidayaannya untuk diambil buahnya. Asal-usulnya yang pasti tidak lagi diketahui, namun kemungkinan besar pohon ini berasal di oasis padang pasir di Afrika utara, dan barangkali juga di Asia barat daya. Pohonnya berukuran sedang, tingginya sekitar 15-25 meter, seringkali tumbuh bergerombol dengan beberapa batang pohon yang muncul dari satu akar yang sama, namun bisa juga tumbuh sendiri-sendiri.

Hiduplah seperti pohon kurma
yang batangnya tinggi menjulang, setinggi cita-citamu
yang tahan terhadap segala penyakit, seperti juga hendaknya tubuhmu yang senantiasa menjaga kesehatan
dan yang paling patut diteladani dari pohon kurma adalah
ketika seseorang melemparnya dengan batu, maka ia akan membalas dengan buahnya yang manis dan lezat.

Jumat, 18 Juni 2010

Tentang Kartini

Ini tulisan pertamaku yang dimuat di Harian Banyuasin tanggal 22 April 2010
Alhamdulillah...akhirnya....



OH... KARTINI

Oleh: Nila Suyanti,S.Pd.

Tak kenal maka tak sayang
Tak sayang maka tak cinta...

Mungkin peribahasa tersebut cukup pas untuk menggambarkan situasi ketika penulis mengobrol tentang sosok Raden Ajeng Kartini kepada beberapa siswa SD, SMP dan SMA. Di antara obrolan itu ada pertanyaan seperti “Apakah kamu kenal dengan R.A. Kartini? Siapakah beliau? Bagaimana rupanya? serta beberapa pertanyaaan lainnya. Penulis bermaksud untuk mengetahui bagaimana sosok R.A. Kartini dikenal oleh para siswa.
Bagi siswa SD terutama kelas 1,2,3 pertanyaan itu cukup sulit untuk dijawab sehingga pertanyaan hanya sampai “Bagaimana rupanya (R.A. Kartini)?”. Ternyata sebagian dari mereka tidak tahu jawabannya bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau memiliki rambut panjang terurai. Padahal yang kita tahu deskripsi fisik seorang Kartini identik dengan konde, kebaya putih dan kain batik Jawa. Apakah ini artinya foto, lukisan atau gambar beliau tidak familiar bagi mereka? Apakah memang saat ini foto beliau ataupun foto pahlawan nasional lainnya jarang menghiasi ruang kelas atau ruang lainnya sehingga para siswa SD ini asing terhadap mereka?
Bagi siswa SMP dan SMA, pertanyaan tentang “Siapa R.A. Kartini?” tentunya dijawab dengan lebih mudah. Sebagian besar menjawab bahwa beliau adalah pejuang emansipasi wanita. Ketika penulis tanya “Apa itu emansipasi wanita?” mereka mulai kesulitan untuk menjelaskannya. Apalagi ketika penulis meneruskan pertanyaan tentang Apa yang beliau alami semasa hidup? Apa yang telah beliau lakukan sehingga diputuskan menjadi pahlawan nasional?” dan Mengapa setiap tanggal 21 April kita peringati sebagai Hari Kartini?” Wah… mereka terlihat benar-benar kesulitan. Dan ada yang menjawab “Aku nggak suka pelajaran sejarah sih…jadi aku nggak tahu banyak, apalagi tentang pahlawan…”
Seingat penulis ketika masih di SD, SMP dan SMA bahkan sampai hari ini peringatan hari Kartini hanya dilakukan dalam bentuk seremonial yaitu selain upacara yang seluruh petugasnya adalah para siswi, juga ada lomba kebaya kartini, merangkai bunga, mewiru kain atau kegiatan lainnya yang kelihatannya hanya mengangkat sisi feminim dari seorang Kartini. Padahal esensi dari peringatan itu mestinya adalah bagaimana pada hari itu (tanggal 21 April) menjadi momentum bagi perempuan Indonesia untuk berjuang seperti Kartini, keluar dari kesulitan dan berjuang untuk meraih apa yang dicita-citakan. Semangat juang beliau harus dimiliki. Kegigihan beliau dalam menyebarluaskan pemikiran tentang kesetaraan, keadilan dan hak-hak yang seharusnya melekat pada kaum hawa dengan mengirim surat ke teman di Belanda menunjukkan beliau sosok yang cerdas bukan feminim yang direpresentasikan melalui lomba kebaya dan konde.
Peringatan hari Kartini di sekolah mestinya tidak hanya berbentuk seremonial saja tapi juga dalam bentuk lain yang lebih memotivasi siswa dalam mengeksplorasi sosok beliau misalnya seminar atau forum tanya jawab tentang Kartini, lomba membuat dan membaca puisi, cerdas cermat, lomba pidato dan debat tentang Kartini dan sebagainya. Kegiatan tersebut tidak hanya membuat para siswa mungkin akan akrab dengan sosok Kartini tapi juga meningkatkan apresiasi mereka terhadap pejuang nasib kaum wanita. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya?
Lantas bagaimana peringatan hari Kartini di kalangan mahasiswa? Penulis cukup salut dengan aksi mahasiswa di tengah jalan raya kampus STAIN Cirebon pada peringatan Hari Kartini tahun lalu. Aksi yang dimotori oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam KOPRI PMII (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri) ini membagikan selebaran refleksi Hari Kartini kepada pengguna jalan yang melewati jalan tersebut. Aksi tersebut mengajak masyarakat untuk merefleksi perjuangan Kartini, bahwa cita-cita Kartini masa itu tinggi namun terbentur batu karang budaya yang memposisikan perempuan hanya sekitar kasur, sumur dapur. Generasi saat ini harus meneruskan perjuangan itu, tegas Dzarotul Munsyi selaku koordinator lapangan aksi tersebut. Walaupun para mahasiswa sedang masa UTS (Ujian Tengah Semester) namun tidak mengurangi semangat nya dalam menyampaikan pesan perjuangan bagi kaum perempuan kepada masyarakat. Aksi mereka diakhiri dengan pernyataan sikap antara lain penegakan supremasi hukum terhadap oknum KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), pengadilan terhadap pejabat dan sindikat trafficking dan penghentian perdagangan perempuan.
Bagaimana pula peringatan Hari Kartini versi organisasi kewanitaan? Tahun lalu tidak sedikit kita lihat bahwa organisasi kewanitaan pada Hari Kartini menggelar acara Fashion Show Kebaya seperti yang dilakukan oleh karyawan Puskesmas Balongsari, Surabaya atau kegiatan lain yang sejenis. Sedangkan di Jakarta sedikitnya 200 polisi wanita (polwan) dari jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya membagikan pin bagi pengendara kendaraan bermotor sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa Kartini. Selain itu polwan yang bertugas di pelayanan (Samsat) mengenakan pakaian khusus berupa kebaya. Ada juga himbauan untuk memberikan perlakuan khusus terhadap para wanita pengguna kereta api pada hari tersebut dan banyak lagi kegiatan lainnya.
Sebagai wanita penulis cukup berbangga dengan kegiatan peringatan Hari Kartini di kalangan mahasiswa dan organisasi kewanitaan tersebut, tapi alangkah baiknya kalau kegiatan tersebut bisa diganti dengan kegiatan sosialisasi kepada seluruh masyarakat tentang Undang-Undang No. 23/2004 yang isinya membela kaum perempuan sehingga kaum hawa semakin mengerti hak-haknya. Kenapa? Karena walaupun undang-undang tersebut telah diberlakukan sejak September 2004 ternyata belum sepenuhnya melindungi perempuan dari tindak kekerasan. Adanya UU KDRT sebenarnya merupakan langkah maju dari perwujudan perjuangan R.A. Kartini bagi masyarakat Indonesia. Semasa hidup, Kartini menginginkan posisi perempuan sejajar secara wajar dengan laki-laki di lingkungan sosial dan budaya.
Kartini… mudah-mudahan di hari jadimu ini kami senantiasa menyadari bahwa kaulah inspirasi bagi seluruh perempuan di negeri ini. Semangat juang mu harus terus kami miliki. Terima kasih Kartini...